APENDISITIS
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Dewasa I
Kelas
A.14.1
Ana
Yuliana (22020114120065)
Azkiya
Ulki Fadhilla (22020114120067)
Fikri
Al Ghifari (22020114120060)
Nadia
Khurotul Aini (22020114120064)
Nurul
Izzah (22020114120059)
Rani
Musafina (22020114120062)
JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015
A. Pengertian Apendisitis
Apendisitis merupakan
peradangan pada usus buntu/apendiks (Defa Arisandi, 2008). Apendisitis
merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks (Anonim, Apendisitis, 2007). Apendisitis adalah peradangan dari
apendik periformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering
(Dermawan & Rahayuningsih ,2010).
Menurut David Joseph dalam South African Medical Journal tahun 2007, angka kejadian terjadinya
perforasi pada apendisitis adalah 20–30%. Menurut David A. Guss dalam The American Journal of Emergency Medicine
tahun 2000, insidensi apendisitis
perforasi pada laki-laki sebanyak 38,7% dan wanita 23,5%. Insidens perforasi
pada apendiks adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan
lansia (Smeltzer dan Brenda, 2001). Angka kejadian
apendisitis di negara berkembang seperti Indonesia mengalami kenaikkan sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi dan perubahan gaya hidup manusianya (Santacroce,
2005). Indikasi ini terlihat dari insidensi penderita apendisitis di Indonesia menduduki
urutan ke empat terbanyak di dunia pada tahun 2006. Satu
dari 15 orang pernah menderita apendisitis dalam hidupnya. Insiden tertingginya
terdapat pada laki-laki usia 10-14 tahun dan wanita yang berusia 15-19 tahun.
Laki-laki lebih banyak menderita apendisitis dari pada wanita pada usia
pubertas dan pada usia 25 tahun (Eylin, 2009). Kemudian
dari data yang dirilis oleh Depkes RI pada tahun 2008 jumlah penderita apendisitis di indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada
tahun 2009 sebesar 596.132 orang.
B. Etiologi
Apendisitis
akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai
faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks,
dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga
dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit
seperti E. histolytica (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Penelitian epidemiologi menunjukkan
peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap
timbulnya apendisitis. Konstipasi
akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional
apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini
akan mempermudah timbulnya apendisitis akut (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Apendisitis
belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor prediposisi
yaitu:
1. Faktor
yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena:
a.
Heperplasia dari
folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b.
Adanya faekolit dalam
lumen appendiks.
c.
Adanya benda asing
seperti biji – bijian.
d.
Striktura lumen karena
fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2. Infeksi
kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus.
3. Laki
– laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja
dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa
tersebut.
4. Tergantung
pada bentuk appendiks
a.
Appendik terlalu
panjang
b.
Massa apendiks yang
pendek
c.
Penonjolan jaringan
limpoid dalam lumen appendiks
d.
Kelainan katup di
pangkal appendiks
C. Manifestasi Klinis
Gejala awal
yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis
adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus
atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan
terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa
jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik
ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri
somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah
epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan
obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah
terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat
rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.
Selain gejala
klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini
bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul
tersebut:
1.
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum
(terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan
tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau
nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam,
batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor
yang menegang dari dorsal.
2.
Bila apendiks terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada
rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga
peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang (diare).
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada
kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya
dindingnya.
Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan
tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak
ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi
perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.
1.
Pada anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau
makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam
kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik.
Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis
diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.
2.
Pada orang tua berusia lanjut
Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga
lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3.
Pada wanita
Gejala apendisitis
sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan
apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang
panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia
kehamilan trimester, gejala apendisitis
berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang
biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum
dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di
perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
D. Faktor Risiko
Faktor Risiko
yang mempermudah
terjadinya radang apendiks, diantaranya :
1.
Faktor
sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting
terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi
disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis
fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing. Obsrtruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada
bermacam-macam apendisitis akut
diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana,
65% pada kasus apendisitis akut
ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis
akut dengan rupture.
2.
Faktor
Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis
primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah
terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan
stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan
adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus,
lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus,
sedangkan kuman yang menyebabkan
perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%.
3.
Kecenderungan
familiar
Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang
herediter dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak
baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis.
Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama
dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan
obstruksi lumen.
4.
Faktor
ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan
sehari-hari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai
resikolebih tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat
sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan
mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya
memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko
apendisitis yang lebih tinggi.
5.
Faktor
infeksi saluran pernapasan
Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut
terutama epidemi influenza dan pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Tapi harus hati-hati karena penyakit
infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan apendisitis.
E.
Patofisiologi
Apendisitis
biasannya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel
limfoid, fekalit, benda asing stiktur karena fibrosis akibat peradangan
sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus
yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin
banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan meningkat tersebut akan
menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan
uulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokat yang ditandai
oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut,
tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,
edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul
meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah
kanan bawah. Keadaan ini tersebut dengan apendisitis
supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu
akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini
disebut dengan apendisitis gangrenosa
. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan
lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga
timbul satu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis . Peradangan
apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kaeran
omentum lebih pendek dan apeks lebih panjang, dinding apenks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan
terjadi perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena
telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer,2007).
F.
Pathway
G.
Klasifikasi
Apendisitis
Apendesitis dapat
diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: (Medical Jurnal, 2005):
1. Apendisitis akut ,
dibagi atas: Apendisitis akut fokalis
atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis purulenta difusi yaitu sudah
bertumpuk nanah (Docstoc, 2010).
2.
Apendisitis kronis,
dibagi atas: Apendisitis kronis
fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu
apendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua (Docstoc, 2010).
Adapun
klasifikasi apendisitis menurut Syamsuhidjayat (2004), mengatakan bahwa Apendisitis terdiri dari lima bagian
antara lain:
1.
Apendisitis Akut
Apendisitis akut adalah peradangan apendiks yang timbul meluas
dan mengenai peritoneum pariental setempat sehingga menimbulkan rasa sakit di
abdomen kanan bawah. Hal ini akan menyebabkan peritonitis. Peritonitis
merupakan proses peradangan lokal atau umum pada peritoneum. Peritonitis
disertai rasa sakit yang semakin hebat, rasa nyeri, kembung, demam dan
keracunan.
2.
Apendisitis Infiltrat
(Masa Periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila apendisitis ganggrenosa di tutupi
pendinginan oleh omentum.
3.
Apendisitis Perforata
Ada fekalit
didalam lumen, umur (orang tua atau anak muda) dan keterlambatan diagnosa
merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks karena
dinding apendiks mengalami ganggren, rasa sakit yang bertambah, demam tinggi,
rasa nyeri yang menyebar dan jumlah leukosit yang tinggi merupakan tanda
kemungkinan terjadinya perforasi.
4.
Apendisitis Rekuren
Kelainan ini
terjadi bila serangan apendisitis
akut pertama kali sembuh spontan, namun apendiks tidak pernah kembali ke bentuk
aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut. Resikonya untuk terjadinya
serangan lagi sekitar 50%.
5.
Apendisitis Kronis
Fibrosis
menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
Skor alvarado adalah suatu sistem
skoring yang digunakan untuk mendiagnosis apendisitis
akut. Skor ini mempunyai 6 komponen klinik dan 2 komponen laboratorium dengan
total skor poin 10. Skor ini dikemukakan oleh Alfredo Alvarado dalam laporannya
pada tahun 1986.Adapun cara pengkajian penyakit apendisitis akut dapat menggunakan Alvarado score:
1.
Skor 1-4
Tidak dipertimbangkan mengalami
apendisitis akut
2.
Skor 5-6
Dipertimbangkan kemungkinan Dx
apendisitis akut tetapi tidak memerlukan tindakan operasi segera.
3.
Skor 7-8
Dipertimbangkan kemungkinan
mengalami apendisitis akut.
4.
Skor 9-10
Hampir definitif mengalami
apendisitis akut dan dibutuhkan tindakan bedah
H.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan apendisitis (Mansjoer, 2000) yaitu:
1.
Pencegahan
Pencegahan dapat di lakukan dengan banyak mengkonsumsi makanan tinggi serat
seperti buah pepeya, pisang dan sayur-sayuran seperti kangkung, kacang panjang,
serta menjaga kebersihan, tidak sering makan – makanan yang terlalu pedas dan
asam, buang air besar secara teratur, olah raga teratur, tidak makan makanan
seperti mie instan secara berlebihan.
2.
Sebelum operasi
Ketika tim medis sudah menentukan tindakan operasi, maka ada beberapa hal
yang perlu dilakukan, antara lain:
a.
Pemasangan sonde lambung
untuk dekompresi
b.
Pemasangan kateter untuk
control produksi urin
c.
Rehidrasi
d.
Antibiotik dengan
spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.
e.
Obat-obatan penurun
panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk membuka pembuluh –
pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.
f.
Bila demam, harus
diturunkan sebelum diberi anestesi
3.
Operasi
Adapun tindakan yang dilakukan saat pasien menjalani tindakan operasi,
antara lain:
a.
Apendiktomi.
b.
Apendiks dibuang, jika
apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis
dan antibiotika.
c.
Abses apendiks diobati
dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau abses mungkin memerlukan
drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses
dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
4.
Pasca operasi
a.
Observasi TTV
b.
Angkat sonde lambung
bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
c.
Baringkan pasien dalam
posisi semi fowler.
d.
Pasien dikatakan baik
bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien dipuasakan.
e.
Bila tindakan operasi lebih
besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali
normal.
f.
Berikan minum mulai 15ml/jam
selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan
saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.
g.
Satu hari pasca operasi
pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2×30 menit. Pada
hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.
h.
Hari ke-7 jahitan dapat
diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
Adapun penatalaksanaan lain yang
dapat dilakukan, yaitu Tindakan Pembedahan (Operasi). Pembedahan diindikasikan
bila diagnosa apendisitistelah ditegakkan.Antibiotik dan cairan IV diberikan
serta pasien diminta untuk membatasi aktivitasfisik sampai pembedahan dilakukan
(Akhyar Yayan, 2008). Analgetik dapatdiberikan setelah diagnosa ditegakkan.
Apendiktomi (pembedahan untukmengangkat
apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum umum atauspinal, secara
terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang merupakan metode terbaru yang
sangat efektif. Bila apendiktomi terbuka, insisi Mc.Burney banyak dipilih oleh
para ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya
dilakukan observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa
dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila terdapat
laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera
menentukan akan dilakukan operasi atau tidak (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
Apendiktomi harus dilakukan dalam
beberapa jam setelah diagnosis ditegakkan (Pieter, 2005). Jika apendiks telah
perforata, terutama dengan peritonitis menyeluruh, resusitasi cairan yang cukup
dan antibiotik spektrum luas mungkin diperlukan beberapa jam sebelum
apendiktomi. Pengisapan nasogastrik harus digunakan jika ada muntah yang berat
atau perut kembung. Antibiotik harus mencakup organisme yang sering ditemukan
(Bacteroides, Escherichia coli, Klebsiella, dan pseudomonas spesies). Regimen
yang sering digunakan secara intravena adalah ampisilin (100 mg/kg/24 jam),
gentamisin (5 mg/kg/24 jam), dan klindamisin (40 mg/kg/24 jam), atau
metrobnidazole (Flagyl) (30 mg/kg/24 jam). Apendiktomi dilakukan dengan atau
tanpa drainase cairan peritoneum, dan antibiotik diteruskan sampai 7-10 hari
(Hartman, 2000).
Massa apendiks terjadi bila terjadi
apendisitis gangrenosa atau mikroperforata ditutupi atau dibungkus oleh omentum
dan atau lekukusus halus. Pada massa periapendikular yang pendidingannya belum
sempurna, dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika
perforata diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa
periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah
penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah. Pada anak, dipersiapkan
untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Bila sudah tidak ada demam, massa
periapendikular hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan
apendiktomi elekt if dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat
perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforata, akan
terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi
nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya
angka leukosit (Pieter, 2005).
Terapi sementara untuk 8-12 minggu
adalah konservatif saja. Pada anak kecil, wanita hamil, dan penderita umur
lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses,
dianjurkan operasi secepatnya (Pieter, 2005).
Adapun
penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan, antara lain:
1.
Tindakan
Medis
a.
Observasi terhadap diagnosa
Dalam 8 – 12 jam pertama setelah
timbul gejala dan tanda apendisitis,
sering tidak terdiagnosa, dalam hal ini sangat penting dilakukan observasi yang
cermat. Penderita dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui
mulut. Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan aperviteral. Hindarkan
pemberian narkotik jika memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti barbitural
atau penenang tidak karena merupakan kontra indikasi. Pemeriksaan abdomen dan
rektum, sel darah putih dan hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu
dilakukan foto abdomen dan thorak posisi tegak pada semua kasus apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas
dari tanda lokalisasi kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah timbul
gejala.
b.
Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik
preoperatif jika terjadi peritonitis atau toksitas yang menandakan bahwa ileus
pasca operatif yang sangat menggangu. Pada penderita ini dilakukan aspirasi
kubah lambung jika diperlukan. Penderita dibawa kekamar operasi dengan pipa
tetap terpasang.
c.
Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif
dianjurkan pada reaksi sistematik dengan toksitas yang berat dan demam yang
tinggi(Mansjoer, 2000).
2.
Terapi
Bedah
Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah
terkontrol ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik
lainnya. Biasanya hanya diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang
direncanakan secara dini baik mempunyai praksi mortalitas 1 % secara
primer angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tampaknya disebabkan
oleh komplikasi ganggren dan perforasi yang terjadi akibat yang tertunda
(Mansjoer, 2000).
3.
Terapi
Pasca Operasi
Perlu dilakukan obstruksi
tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan didalam, syok
hipertermia, atau gangguan pernapasan angket sonde lambung bila pasien
telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien
dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi
gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar,
misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi
usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5
jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makan
saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi
pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada
hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh
jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang. (Mansjoer, 2000).
- Asuhan Keperawatan Pada Pasien Apendisitis
1. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Riwayat Keperawatan
1)
riwayat kesehatan saat
ini ; keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.
2)
Riwayat
kesehatan masa lalu
3)
pemeriksaan fisik
a)
Sistem kardiovaskuler :
Untuk mengetahui tanda-tanda vital,
ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
b)
Sistem hematologi :
Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya
infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.
c)
Sistem urogenital : Ada
tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
d)
Sistem muskuloskeletal
: Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang,
sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
e)
Sistem kekebalan tubuh
: Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
4)
Pemeriksaan penunjang
a)
Pemeriksaan darah rutin
: untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya
infeksi.
b)
Pemeriksaan foto
abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.
2.
Diagnosa
Keperawatan Apendisitis
a. Pre operasi
1) Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan muntah pre operasi.
2) Gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.
3) Ansietas
berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
b. Post operasi
1) Gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi apendektomi.
2)
Gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berkurang berhubungan dengan anorexia, mual.
3)
Resiko tinggi infeksi berhubungan
dengan insisi bedah. Kurang pengetahuan tentang perawatan dan penyakit
berhubungan dengan kurang informasi.
3. Perencanaan
a. Persiapan umum operasi
Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi :
1) Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).
2) Mengukur tanda-tanda vital.
3) Mengukur berat badan dan tinggi badan.
4) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).
5) Wawancara.
4. Persiapan klien malam sebelum operasi
Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :
a) Persiapan kulit
1) kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi.
2) Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi.
b) Persiapan saluran cerna
Persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :
1) Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.
2) Mengurangi kemungkinan obstruksi usus.
3) Mencegah infeksi faeses saat operasi.
Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :
a. Puasa dan pembatasan makan dan minum.
1) Pemberian enema jika perlu.
2) Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.
3) Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 - 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
b. Persiapan untuk anastesi
c.
Ahli anastesi selalu berkunjunng
pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan lengkap
kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi yang akan
digunakan selama operasi.
d.
Meningkatkan istirahat dan tidur
e.
Klien pre operasi akan istirahat
cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga mentalnya dan
diberi sedasi yang cukup.
f.
Persiapan pagi hari sebelum operasi klien
dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan pre operasi :
1. Mencatat tanda-tanda vital
2. Cek gelang identitas klien
3. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik
4. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus
Yakinkan bahwa klien tidak makan
dalam 8 jam terakhir
6. Anjurkan klien untuk buang air kecil
7. Perawatan mulut jika perlu
8. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala
9. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia
lebih mudah.
4.
Intervensi pre operasi
1. Obsevasi tanda-tanda vital
2. Kaji intake dan output cairan
3. Auskultasi bising usus
4. Kaji status nyeri
: skala, lokasi, karakteristik
5. Ajarkan tehnik relaksasi
6. Beri cairan intervena
5. kaji tingkat
ansietas
6. Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan
5. Intervensi post operasi
1.
Observasi tanda-tanda vital
2.
Kaji skala nyeri : Karakteristik, skala, lokasi
3.
Kaji keadaan luka
4.
Anjurkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk
5.
Kaji status nutrisi6. Auskultasi bising usus
7.
Beri informasi perawatan luka dan penyakitnya.
6. Evaluasi
1). Gangguan rasa nyaman teratasi
2) Tidak terjadi infeksi
3) Gangguan nutrisi teratasi
4) Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya
5) Tidak terjadi penurunan berat badan
6) Tanda-tanda vital dalam batas normal
DAFTAR PUSTAKA
Huether
SE. Alterations of digestive system. In: McCance KL, Huether SE. Patophysiology
5th
Ed.Evolve, 2006: 1385-1446
Burner and
suddarth, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,-edisi 8,-volume 2,
Jakarta : EGC.
Engram, Barbara,
1994, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Vol 2, Jakarta : EGC.
Chapter II.
Universitas Sumatera Utara. Available on:
Junias Mangema. 2009. Hubungan Antara Skor Alvarado dan Temuan Operasi
Apendisitis
Akut di Rumah Sakit Pendidikan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses
Penyakit, Buku Pertama. Edisi
4. Jakarta. EGC.
Brunner
dan Sudarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi
8, Volume 2, Alih
Bahasa dr. H. Y. Kureasa, Editor Monica Ester, SKp. Jakarta
: EGC.
Doengoes,
Marilynn, E., 2000, RencanaAsuhanKeperawatan, EGC, Jakarta.
Mansjoer, Arif,
2000, KapitaSelektaKedokteran, Media Aesculapius, FKUI,Jakarta.
Smeltzer, C.
Suzanne, C. Brenda, G. Bare, 2001, Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah,
Brunner &Suddarth, EGC, Jakarta.



0 komentar:
Posting Komentar